Dewi Hastarini & Lusy Estriani

Mengatasi Stres dalam Menghadapi Deadline Tugas Kuliah

Posted on: Desember 12, 2012

Mengatasi Stres dalam Menghadapi Deadline Tugas Kuliah

Dunia perkuliahan biasanya cukup identik dengan mahasiswa dan tugas-tugas kuliah. Tugas-tugas kuliah yang diberikan biasanya terdiri dari berbagai macam jenis, seperti membuat makalah, penelitian, presentasi, analisa kasus, dll. Bentuk dan cara pengerjaan tugas-tugas kuliah itu juga beragam yaitu dapat berupa tugas berkelompok atau tugas mandiri. Setiap tugas kuliah yang diberikan oleh setiap dosen memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Seharusnya dengan semakin berkembangnya teknologi, mahasiswa dapat lebih mudah untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit mahasiswa yang pada akhirnya menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya sampai pada menit-menit terakhir waktu pengumpulan tugas. Di kalangan mahasiswa, mereka yang menyelesaikan tugas sampai pada detik-detik terakhir pengumpulan tugas ini dinamakan deadliners.

Dalam mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, para deadliners ini berpacu dengan waktu dan berusaha secepat serta sekeras mungkin untuk menyelesaikan semua tugas-tugas kuliah yang ada sebelum terlambat. Mereka tentunya merasakan kecemasan yang semakin intens serta bagaimana perut mereka terasa tidak enak atau jantung yang berdebar-debar menjelang waktu pengumpulan tugas yang semakin mendekat sampai akhirnya mereka menyelesaikan tugasnya dan menjadi lega.

Secara umum stres dapat diartikan sebagai “…feeling that’s created when we react to particular events. It’s the body’s way of rising to a challenge and preparing to meet a tough situation with focus, strength, stamina, and heightened alertness” (http://www.kidshealth.org/teen/your_mind/emotions/stres.html). Artinya, stres itu sendiri merupakan reaksi seseorang terhadap situasi tertentu yang terjadi di sekitarnya. Ada 2 pandangan yang digunakan untuk menjelaskan stres, eustres dan distres. Berdasarkan istilah yang digunakan oleh Selye (1974), distres yaitu “damaging or unpleasant stres… a state of anxiety, fear, worry, or agitation. The core of the psychological experience is negative, painful, something to be avoided”. Sedangkan menurut Hanson (1986), eustres merupakan stres yang mendatangkan kebaikan. Sesuatu hal / kondisi yang menimbulkan stres disebut sebagai stresor.

Reaksi stres

Para deadliners jelas terlihat mengalami stres (distres) dengan deadline tugas sebagai stresor-nya. Hal ini terlihat dari reaksi mereka terhadap stres menjelang waktu pengumpulan tugas tiba (deadline tugas). Biasanya, ciri khas yang terlihat adalah para deadliners akan terlihat sibuk berkonsentrasi dan ngebut untuk cepat-cepat menyelesaikan tugas kuliahnya. Semakin dekat waktu pengumpulan tugas, mereka akan merasa cemas, jantung semakin berdebar-debar dan berkeringat dingin. Hal ini disebabkan ketika kita memberikan respon terhadap stresor, hormon adrenalin dan kortisol dilepaskan ke aliran darah dalam tubuh. Hormon ini membuat jantung kita berdetak lebih cepat, meningkatkan tekanan darah, ritme pernapasan dan metabolisme tubuh. Pembuluh darah terbuka lebar sehingga otot tubuh menjadi lebih tegang. Hati melepaskan glukosa untuk memberikan tenaga pada tubuh dan akhirnya keringat dihasilkan. Selain itu, reaksi gejala fisik yang timbul juga meliputi perasaan terburu-buru, cemas, perut tidak enak, sakit kepala, dan sejumlah reaksi fisik lainnya (http://www.kidshealth.org/teen/your_mind/emotions/stres.html).

Kecemasan yang dirasakan para deadliners juga dapat dikategorikan sebagai reaksi emosional terhadap stres yang dihadapi disamping reaksi-reaksi lainnya seperti ketidaksabaran, perasaan ingin menangis, kesulitan tidur, serta perubahan pola makan. Reaksi secara kognitif terhadap stresor dapat terlihat dari sulitnya para deadliners untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas, kurang dapat memperhatikan detail, kurang kreatif dan produktif, penglihatan kabur serta menjadi pelupa. Perilaku lain yang dapat terlihat oleh kita adalah perilaku para deadliners selama menyelesaikan tugas kuliah seperti cenderung ceroboh, tertawa dengan gugup, merokok, makan berlebihan atau makan terlalu sedikit, serta cenderung menjadi lebih agresif (http://holisticonline.com/stress/stress_home.htm).

Sumber stres

Tak jarang para deadliners juga begadang dengan ditemani kopi supaya mereka tidak mengantuk dan dapat terus menyelesaikan tugasnya sampai tengah malam atau pagi. Sebenarnya, begadang dapat menimbulkan stres karena ritme waktu tubuh berubah sehingga menyebabkan ketidakseimbangan pada sistem di dalam tubuh. Seharusnya tubuh sudah beristirahat pada jam tertentu di waktu malam namun karena begadang, tubuh dipacu untuk terus ‘bangun’ dan menyelesaikan tugas kuliah. Jika stres ini terus berlanjut, maka sistem kekebalan tubuh para deadliners menurun dan mereka akan menjadi sakit (Wortman, et al, 1999).

Berdasarkan hasil penelitian dari para ahli di University of Chicago (http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/diabetes311207.htm), tidur tidak nyenyak selama tiga hari berturut-turut juga akan menurunkan toleransi tubuh terhadap glukosa, khususnya pada orang muda dan dewasa. Lebih lanjut dikatakan juga bahwa hal ini dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap diabetes.

Pola hidup begadang ini juga terkait dengan perubahan pola makan para deadliners. Ketika para deadliners begadang dan sibuk menyelesaikan tugas kuliah, secara tidak langsung makanan yang dikonsumsi tidak teratur jadwalnya. Para deadliners, misalnya, bisa makan lebih atau bahkan kurang dari 3 kali sehari atau ngemil di malam hari saat mengerjakan tugas. Jika seseorang makan tidak teratur maka akan mengganggu waktu proses metabolismee tubuh dalam mengolah, menyerap dan membuang zat sisa makanan.

Konsumsi kafein berlebihan, terutama pada kopi, juga dapat menjadi sumber stres. Seseorang yang mengkonsumsi kopi dalam jumlah yang banyak (lebih dari 250 mg kafein per hari / setara dengan 3 cangkir kopi) akan mengalami kecemasan, diare, lekas marah, denyut jantung yang tidak beraturan dan kesulitan untuk berkonsentrasi. Hal ini disebabkan karena kafein merupakan zat perangsang dan dapat meningkatkan pengeluaran asam lambung dan hormon tiroid yang dapat menimbulkan kegelisahan dan dapat menyebabkan ginjal bekerja lebih keras karena bertindak sebagai diuretik (menyebabkan sering buang air kecil). Kafein menghalangi penyerapan zat besi jika dikonsumsi dengan makanan atau dalam satu jam setelah makan (http://www.familys-doctor.com/mainisuee).

Coping strategies

Setelah mengetahui sumber-sumber stres-nya, apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi deadline tugas kuliah? Langkah pertama untuk mengatasinya adalah dengan mengatur / me-manage stres yang kita alami. Cara / strategi yang digunakan untuk me-manage stres biasa dikenal dengan istilah coping strategy. Coping strategy didefinisikan sebagai “stabilizing factor that can help individuals maintain psychosocial adaptation during stresful periods. It compasses cognitive and behavioral efforts to reduce or eliminate stresful conditions and associated emotional distres” (Lazarus and Folkman, 1984; Moss and Schaefer, 1993). Menurut Zainun Mu’tadin, SPsi., MSi. (ww.e-psikologi.com), coping strategy merupakan “suatu proses dimana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai  situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku  guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.”

Ada2 bentuk coping yang dikenal, problem focused coping dan emotion focused coping (Wortman, et al, 1999). Problem focused coping adalah usaha mengatasi stres dengan cara melakukan tindakan langsung yang bersifat konstruktif terhadap situasi sumber stres itu (berhubungan dengan stres yang dapat dikontrol). Emotion focused coping adalah usaha untuk mengelola emosi yang terjadi karena situasi yang dihadapi (berhubungan dengan stres yang tidak dapat dikontrol). Bentuk yang satu sama baiknya dengan bentuk yang lain, hanya tergantung siapa, kapan dan pada situasi apa kedua bentuk coping itu digunakan.

Menurut definisi di atas, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi deadline tugas kuliah. Salah satunya adalah mengatur waktu dengan baik (time management). Aturlah prioritas dan jadwal sehari-hari dengan baik. Dengan menentukan prioritas maka para deadliners memahami hal-hal penting apa saja yang akan dilakukan terlebih dahulu. Dengan mengatur jadwal, maka para deadliners dapat menyusun rencana dari jauh hari sebelum deadline pengumpulan tugas mengenai apa-apa saja yang harus dikerjakan sehingga tugas tidak dibiarkan menumpuk. Selain itu, dengan jadwal yang tersusun rapi maka para deadliners bisa mengatur waktu kapan mereka mengerjakan tugas dan kapan bersantai melakukan aktivitas lainnya. Cara lainnya yaitu berusaha untuk menjalani hidup dengan lebih rileks dan bahagia. Jika kita merasa rileks maka saraf-saraf tubuh kita akan ikut rileks dan santai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: